Solo, Mengalir sampai Jauh

Solo adalah sebuah kota tua di Jawa Tengah. Ia merekam jejak sejarah perintis pergerakan perjuangan kemerdekaan dan tradisi kebudayaan Jawa. Perjalanan menjelajahi kota berpenduduk 560 ribu jiwa ini menjanjikan petualangan nostalgi, mistis, namun diwarnai keasyikan berburu barang antik dan belanja. Solo dikenal pula dengan ikon the city that never sleeps sehingga para pelancong bisa keluar hotel di malamhari dan mulai berwisata jam berapa pun.

 

Menyusuri Supit Urang, sebidang jalan berbentuk penjepit urang di belakang Sitihinggil dan Alun-Alun Utara, saat malam telah larut, menawarkan sensasi mistis betapa pada zaman dulu perjalanan menuju gerbang Keraton Surakarta Hadiningrat harus menembus dinding Baluwarti yang tebal dan tinggi. Dan memandang Panggung Sangga Buwana, menara lima lantai yang menjulang 35 meter, sambil berbicang dengan penjaga gerbang keraton, menarik untuk menggali mitos percintaan Raja dengan Ratu Laut Selatan di atas sana. Banyak pula tempat sakral di bagian lain kota ini.

 

Keraton Surakarta Hadiningrat di Solo, Jawa Tengah, adalah saudara tua dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pada 1755, dalam Perjanjian Giyanti, yang dua tahun kemudian disusul dengan Perjanjian Salatiga, Kerajaan Mataram Kartasura, di barat Solo, pecah menjadi empat keraton; Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran di Solo serta Keraton Ngayogyakarta dan Pura Pakualaman di Yogyakarta.

 

Solo juga mencatat sejarah pendirian Solosche Radio Vereeniging (SRV), stasiun radio pertama di Indonesia, pada 1 April 1933, dan pendirian Persatuan Wartawan Indonesia pada 9 Februari 1946, yang jejaknya ada di Monumen Pers. Radyapustaka, museum pertama di Nusantara, juga diSolo.

 

Selain itu, masih ada pendirian Sarekat Dagang Islam, organisasi kebangsaan pertama di Indonesia pada 1905, Persaturan Guru Republik Indonesia pada 1945, dan Pekan Olahraga Nasional pertama pada 1948. Bahkan, Rehabilitasi Centrum Prof Dr Soeharso yang didirikan sejak 1951 di Solo masih merupakan satu-satunya rumah sakit ortopedi di tanah air.

 

Museum Batik Ndalem Wuryoningratan dengan koleksi 10 ribu motif batik, serta Kampung Batik Kauman dan Laweyan, menjawab keingintahuan publik tentang mengapa Batik Indonesia layak dinobatkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Unicef. Selain untuk belanja batik, Solo juga kota yang tepat untuk berburu barang antik dan makanan lezat.

 

Sepur Kluthuk Jaladara, sebuah kereta api uap, menembus jalan protokol, Jalan Slamet Riyadi, melengkapi pengalaman menikmati kota lama penuh nostalgi ini. Mampirlah ke pasar-pasar tradisional untuk menggenapi pengalaman.#

 

==

 

KERATON SURAKARTA

Keraton Surakarta Hadiningrat kini masih berdiri kokoh sebagai pusat kebudayaan Jawa meski tak lagi memiliki wilayah kekuasaan dan lembaga pemerintahan. Sejak Raja Sri Susuhunan Paku Buwono XII menyatakan dukungan pada Kemerdekaan Republik Indonesia sehari setelah proklamasi 17 Agustus 1945, praktis kewenangan raja berangsur surut, apalagi lama telah digerogoti kompeni.

 

Meski sempat menyatakan Surakarta sebagai Daerah Istimewa Surakarta, beberapa bulan sebelum penetapan Daerah Istimewa Yogyakarta, Presiden Pertama Republik Indonesia Ir Soekarno mencabut kembali status istimewa itu pada 16 Juni 1946 karena Raja tak bisa mengatasi Gerakan Pemberontakan Swapraja oleh Tan Malaka yang pecah di Madiun dan merembet hingga Surakarta.

 

Surakarta kini lebih populer dengan sebutan Solo. Pada 1744, tersebutlah sebuah desa bernama Sala. Desa di pinggir barat Sungai Bengawan Sala (Bengawan Solo) ini  dipilih Raja Sri Susuhunan Paku Buwono II sebagai ibukota bagi Keraton Surakarta Hadiningrat. Setahun sebelumnya, Keraton Mataram Kartasura luluh-lantak dalam Geger Pecinan pada 1743.

 

Setelah lama berseteru, Pangeran Mangkubumi dan Raja Sri Susuhunan Paku Buwono III, kakaknya sendiri dari ayah yang sama, Amangkurat IV, akhirnya berdamai. Berdasarkan Perjanjian Giyanti pada 1755 di Dukuh Kerten, Desa Jantiharjo, Karanganyar, di kaki Gunung Lawu, wilayah Surakarta dipecah. Pangeran Mangkubumi mendapat tahta di Yogyakarta dan bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I.

 

Secara harfiah, Surakarta Hadiningrat berasal dari kata “Sura” berarti gagah berani, “Karta” bermakna makmur, “Hadi” bermurad besar, “Ing” adalah di, “Rat” bermaksud negara. Dengan demikian, Surakarta Hadiningrat dapat didefinisikan sebagai negara besar yang gagah berani dan makmur. Kejayaan terakhir keraton ini dicapai Raja Sri Susuhunan Paku Buwono X pada 1893 – 1939 yang tampak dari pembangunan dan restorasi besar-besaran pada istana.

 

Keraton Surakarta memiliki tujuh halaman utama; yaitu Pamuraan Njawi, Pamuraan Nglebet, Alun-Alun Utara dan Selatan, Siti Hinggil, Kamandungan, Sri Manganti, dan Plataran. Juga memiliki tujuh gerbang atau kori; yakni Kori Gladag, Pamuraan, Wijil, Brojonolo, Kamandungan, Mangun, dan Manganti. Secara umum, komplek Keraton Surakarta sama dengan Keraton Ngayogyakarta. Di dalamnya terdapat bangsal atau ruang-ruang kecil dan sasana atau ruang-ruang besar dan utama.

 

Yang membuat Keraton Surakarta istimewa adalah Supit Urang, sebidang jalan berbentuk penjepit urang di belakang Sitihinggil dan Alun-Alun Utara yang diapit dinding Baluwarti yang tebal dan tinggi. Juga Panggung Sangga Buwana, menara yang konon menjadi tempat pertemuan Raja Surakarta dengan Ratu Laut Selatan.

 

Meski arsitek Keraton Surakarta adalah Pangeran Mangkubumi, yang kemudian bertahta sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono I, Keraton Ngayogyakarta toh tidak memiliki Supit Urang dan Sangga Buwana. Sultan juga tidak  mementaskan tarian sakral Bedhaya Ketawang tentang Ratu Laut Selatan karena memang hanya boleh ditarikan di Keraton Surakarta.

 

Sejak Sri Susuhunan Paku Buwono XII wafat tanpa wasiat pada 2004, Keraton Surakarta kembali pecah. Muncul Raja Sri Susuhunan Paku Buwono XIII Hangabehi yang bertahta di dalam istana dan Sri Susuhunan Paku Buwono XIII Tedjowulan yang berdiam di Sasana Purnama, di luar istana. Keduanya anak para selir Paku Buwono XII yang memang tidak memiliki permaisuri sepanjang hayatnya. #

 

==

 

PURA MANGKUNEGARAN

Pura Mangkunegaran merupakan pecahan dari Keraton Surakarta Hadiningrat. Berdasarkan Perjanjian Salatiga pada 1757, Raja Sri Susuhunan Paku Buwono III menyerahkan sebagian kecil wilayahnya kepada sepupunya, Raden Mas Said. Setelah menerima Istana Kepatihan Keraton Surakarta sebagai istananya, yang hingga kini dikenal sebagai Pura Mangkunegaran, R.M. Said menobatkan diri sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Arya Adipati Mangkunegara I. Sebagian kalangan menyebutnya Sri Paduka Mangkunegara I. 

 

Secara harfiah, Mangkunegara bermakna memangku kekuasaan kenegaraan. Nama ini diambil R.M. Said dari nama ayahnya, Pangeran Arya Mangkunegara Kartasura, saudara Raja Keraton Kartasura Sri Susuhunan Paku Buwono II dan Pangeran Mangkubumi yang bertahta di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I berdasarkan Perjanjian Giyanti pada 1755 .

 

Tapi, mendapatkan mahkota tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Sempat mendukung perjuangan Pangeran Mangkubumi mendirikan Keraton Mataram Ngayogyakarta di Kotagede pada 1949, dan bahkan menikahi putrinya, R.M. Said akhirnya justru melawan paman sekaligus sang mertua itu, karena menolak tunduk pada Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Ia juga menentang pamannya yang lain, Raja Paku Buwono II, yang dianggapnya bersekongkol pula dengan kompeni.

 

R.M Said yang terkenal sebagai Pangeran Sambernyawa ini berperang dalam 250 pertempuran selama 16 tahun sebelum akhirnya menobatkan diri sebagai raja. Hingga masa Kanjeng Gusti Pangeran Arya Adipati Mangkunegara IX Sudjiwo saat ini, tidak pernah ada gambar atau potret wajah Mangkunegara I. Profil Sang Pangeran gagah berani hanya dilukiskan dengan lambang Mangkunegaran beraksara MN.

 

Secara arsitektural, ada pengaruh Eropa pada bangunan istana yang kental dengan nuansa Hindu-Jawa ini. Pura Mangkunegaran memiliki ciri yang hampir sama dengan komplek Keraton Surakarta. Bedanya, Mangkunegaran tidak memiliki Alun-Alun. Di halaman depan, hanya terdapat pelataran luas yang disebut Pamedan atau lapangan untuk latihan keprajuritan kavaleri. Lalu, sebuah halaman lagi di komplek dalam istana, persisnya di depan Pendopo Agung, pendopo seluas 3.500 meter persegi yang dibangun dengan pilar-pilar sokoguru dan atap joglo tanpa paku.

 

Di belakangnya, masih kokoh berdiri Ndalem Ageng yang ditempati keluarga raja dan beranda Pringgitan yang kini difungsikan sebagai museum. Pada 1 April 1933, Kanjeng Gusti Pangeran Arya Adipati Mangkunegara VII berjasa mendirikan Solosche Radio Vereeniging (SRV), stasiun radio pertama di Indonesia, yang kini digunakan sebagai stasiun Radio Republik Indonesia (RRI) di Solo, Jawa Tengah. #

 

==

KERETA-API KUNO BERLOKO UAP

 

Waktu terasa berjalan lambat di Solo, kota yang populer dengan idiom “alon-alon waton kelakon” atau “pelan-pelan asalkan kesampaian” ini. Selain bisa menikmati suasana berkeliling kota dengan sepeda, becak, dan delman, kini ada alternatif baru yang mengasyikkan. Sebetulnya tak benar-benar baru. Sebab, moda transportasi wisata ini berupa Kereta-Api berloko uap tipe C.12.18 bikinan Jerman pada 1896 dengan dua gerbong jenis CR 144 dan CR 16. Oleh Pemerintah Kota Solo, ia dinamai Sepur Kluthuk Jaladara.

 

Inilah satu-satunya KA kuno berloko uap di Indonesia, bahkan di dunia, yang beroperasi membelah pusat kota. Berjalan satu jalur dengan jalan raya untuk angkutan umum, mobil, motor, sepeda, dan pedestrian tanpa pembatas jalan. Kereta berbahan bakar kayu jati ini merambat pelan di atas rel lintasan Kereta Api Feeder Solo-Wonogiri di Jalan Slamet Riyadi sejauh 5,6 kilometer. Jalur sepanjang total 33 kilometer ini merupakan bikinan Nederlandsch Indië Spoor Maatschappig (NIS) pada 1 April 1923. Dan, jalur ini berada di Jalur Lintas Raya yang terhubung sampai Jakarta.

 

Berangkat dari Stasiun Purwosari di bagian barat kota hingga Stasiun Kota di bagian timur kota, Sepur Kluthuk Jaladara ini menempuh perjalanan 3 jam pergi-pulang. Kereta yang diboyong dari Museum KA Ambarawa, Jawa Tengah, ini berkapasitas 72 penumpang. Puluhan tahun silam, KA berloko uap ini dioperasikan untuk trayek Stasiun Ambarawa-Stasiun Jambu.

 

Sekali jalan, KA ini menghabiskan bahan bakar 4-6 meter kubik kayu jati dan 500 kiloliter air senilai Rp 3,2 juta. Harga tiket Sepur Kluthuk Jaladara adalah Rp 200 ribu per orang. Khusus untuk penumpang yang memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Solo dan daerah-daerah penyangga di sekitarnya; yaitu Sragen, Karanganyar, Sukoharjo, Wonogiri, Boyolali, dan Klaten; ditetapkan harga khusus pelayanan publik senilai Rp 30 ribu per penumpang.

 

Saat ini, Sepur Kluthuk Jaladara melayani perjalanan wisata pada Sabtu, Minggu, hari libur nasional, dan hari-hari khusus untuk layanan carter. KA dioperasikan jika jumlah minimal penumpang adalah 60 orang. Penumpang memeroleh welcome drink berupa jamu gendong dan “jajan pasar” atau kudapan tradisional, dihibur seorang sindhen atau penyanyi lagu Jawa yang diiringi siter dan kendang, dan atraksi kesenian tradisi lainnya di setiap pemberhentian. Masih dihadiahi pula cinderamata sebatang tunas Pohon Jati.

 

Selain berhenti di sejumlah pusat perbelanjaan, KA kuno berloko uap ini juga mampir di Loji Gandrung – rumah kuno yang menjadi rumah dinas Walikota Solo. Lalu, di Museum Radyapustaka di komplek Taman Kebon Raja Sriwedari, Museum Batik Danarhadi di Ndalem Wuryoningratan, Pasar Antik Windujenar – tak jauh dari Pura Mangkunegaran, Kampung Seni Kemlayan, dan Gladag – gerbang terdepan Keraton Surakarta Hadiningrat – tak jauh dari Pasar Klewer.


Sepur Kluthuk Jaladara berjalan mengepulkan asap tebal dan mengeluarkan suara yang menderu-deru tiap beberapa menit. Ia membawa kembali suasana kota lama di masa kini dalam perjalanan wisata nostalgi.

 

==

 

PASAR-PASAR TRADISIONAL

Kota Solo juga dikenal sebagai kota belanja. Berbeda dengan kota-kota lain, masyarakat Solomasih setia mempertahankan pasar-pasar tradisionalnya yang salah satunya adalah pasar bertingkat pertama di Indonesia. Berburu barang antik di Solo juga seru.

 

A. PASAR GEDE HARDJONEGORO

Raja Keraton Surakarta Hadiningrat, Sri Susuhunan Paku Buwono X, meninggalkan jejak-jejak sejarah yang menandai Solo telah memasuki peradaban kota pada masa sebelum kemerdekaan. Pasar Gede Hardjonegoro yang diresmikan pada 12 Januari 1930 dan jalur rel trem di depan pasar bisa jadi bukti nyata. Pasar di kawasan Pecinan Sudiroprajan ini dibangun oleh arsitek Belanda, Ir Herman Thomas Karsten.

 

Sejak dulu, kawasan ini dikenal sebagai kawasan Pasar Candi Padurasa karena kegiatan religiusitas masyarakat Hindu Majapahit dapat harmonis dengan aktivitas ekonomi masyarakat Pecinan dengan memanfaatkan Sungai Pepe di dekatnya sebagai jalur transportasi. Lambat-laun, pasar semakin maju dan dikenal dengan nama Pasar Gede Oprokan karena semarak oleh payung-payung peneduh barang dagangan.

 

Pada masa Paku Buwono X, pasar ini dibangun secara besar-besaran sebagai simbol duniawi sebagai penyeimbang bagi Masjid Agung sebagai simbol ukhrawi. Bekerjasama dengan Nederlandsch Indië Spoor Maatschappig (NIS), raja juga membangun jalur rel kereta api luar dan trem dalam kota. Saat ini, Pemerintah Kota Solo sedang berupaya menggali kembali jalur trem yang telah terpendam aspal jalan.

 

Di pasar tradisional ini, ratusan pedagang menjual sayur-sayuran, buah-buahan, daging dan ikan, sembako, dan berbagai kebutuhan sehari-hari masyarakat. Lauk-pauk siap saji, puluhan jenis jajan pasar, jamu dan rempah-rempahan bahan jamu, bahan-bahan kue dan roti, serta beragam minuman khas masyarakat Solo, bahkan ikan hias, tersedia.

 

Berdiri di atas lahan seluas 6.971 m2, pasar tradisional ini memiliki ciri khas interior bangunan berstruktur benteng yang lebar dan panjang. Pasar Gede Hardjonegoro membelah Jalan Urip Sumohardjo dengan dua bangunan, yakni pasar ikan hias dan buah-buahan di sisi barat dan pasar kebutuhan harian di sisi timur. Pasar ini merupakan pasar bertingkat pertama di Indonesia.

 

B. PASAR ANTIK WINDUJENAR

Masyarakat lebih dulu mengenalnya sebagai Pasar Tri Windu sebelum pada 25 September 2009 diganti Pemerintah Kota Solo dengan nama Pasar Windujenar. Kawasan sekitar pasar ini kini dikenal dengan Kawasan Ngarsopuro yang bermakna Depan Pura karena keberadaannya memang di depan Pura Mangkunegaran. Pasar ini menjual beraneka barang antik. 

 

Didirikan pada 1939 oleh Raja Pura Mangkunegaran, Kanjeng Gusti Pangeran Arya Adipati Mangkunegara VII, pasar ini adalah hadiah ulang tahun ke 24 untuk putrinya, Gusti Bandoro Raden Ajeng Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani. Ini bisa ditilik dari nama pasar, yaitu Tri Windu, yang bermakna tiga windu atau 24 tahun.

 

Semula, model transaksi di pasar barang antik ini memakai sistem barter. Namun, kini tentu saja tidak demikian lagi. Bahkan, pengunjung perlu jeli memilih barang yang diburu sehingga tidak terkecoh dengan barang-barang duplikat di antara barang-barang yang benar-benar antik. Kepandaian menawar harga juga sangat diperlukan karena tidak ada patokan harga di pasar barang antik yang telah dipugar menjadi lebih rapi dan bertingkat dua ini.

 

Selain sebagai pasar, kawasan ini kini dimanfaatkan pula untuk berbagai kegiatan kemasyarakatan. Mulai dari pertunjukan kesenian tradisional hingga fashion-show batik. Aktivitas jual-beli diadakan hanya sampai pukul 16.00. Barang-barang antik yang disediakan, antara lain, patung kayu dan perunggu, wayang kulit, wayang kayu, aneka lampu hias, radio kuno, mesin ketik lawas, topeng, lukisan, lonceng, gagang pintu, jam berdiri, hingga kepengan uang kuno. #

 

C. PASAR KLEWER

Inilah ikon Solo yang dikenal luas oleh masyarakat luar daerah, selain Sungai Bengawan Solo. Menempati bekas lahan parkir bagi kereta-kereta kuda para sentana, abdi dalem, dan tamu dari kerajaan lain di selatan Masjid Agung Keraton Surakarta seluas 12.950 m2, Pasar Klewer dulunya bernama Pakretan atau tempat parkir kereta kuda.

 

Ia berada di ujung jalan tertua di Solo, Jalan Secoyudan (kini Jalan Radjiman). Jalur lurus dari barat ke timur inilah yang dilewati keluarga raja saat boyongan dari Keraton Mataram Kartasura yang hancur ke Keraton Surakarta Hadiningrat di Desa Sala pada 1744. Ketika kereta api mulai masuk dan melintas di jalan protokol Solo pada 1923, kawasan ini pun berubah nama menjadi Pasar Slompretan.

 

Slompretan berarti terompet atau peluit. Kala itu, lengking peluit masinis di Stasiun Kereta Api Kota, yang berada tak jauh dari pasar, terdengar nyaring sehingga akhirnya pasar ini dinamai Pasar Slompretan. Tapi, penjajahan Jepang pada 1942-1945 sempat membuat aktivitas pasar mandek. Hidup susah menyebabkan masyarakat menjual kain-kain bekas demi sesuap nasi. Dari sini muncul nama Pasar Klewer dari kata “kleweran” atau berjuntaian karena kain-kain lungsuran dijajakan secara ala kadarnya, bahkan berjuntaian ke tanah.

 

Sejak dibangun dua lantai dan diresmikan Presiden Kedua Republik Indonesia Soeharto pada 9 Juni 1971, kini Pasar Klewer merupakan pusat grosir tekstil dan batik terkenal di Indonesia. Di 2.062 kios dan lebih dari 500 oprokan/los, pengunjung leluasa memilih batik tulis dan cap khasSolo.

 

Kain batik gaya Yogyakarta, Pekalongan, Banyumas, dan Madura juga tersedia. Selain untuk pakaian, kain batik untuk sarung bantal, sprei, gordyn, aksesoris rumah tangga, dan aneka kebutuhan lainnya dijual murah. Kejelian memilih dan kepandaian menawar menjadi kunci penentu memeroleh barang yang diinginkan dengan harga yang sesuai kantong. #

 

MUSEUM-MUSEUM

Solo adalah kota tua namun tak ingin menjadi sekadar kenangan. Dengan slogan Solo: The Spirit of Java, kota ini terus membangun dengan konsep Solo Masa Lalu adalah Solo Masa Depan. Belum ke Solo jika belum mengunjungi museum-museum di berbagai penjuru kota. Sejarah Indonesia banyak dimulai dari dan dipengaruhi oleh para pendahulu di kota ini.

 

A. MUSEUM BATIK SAMANHUDI

Museum ini dibangun Yayasan Warna-Warni yang dikelola Krisnina Akbar Tandjung di bekas kediaman Haji Samanhudi di Kampung Laweyan. Rumah ini merupakan pemberian Presiden Pertama Republik Indonesia Ir Soekarno pada 17 Agustus 1962. Dibuka untuk umum pada 22 Agustus 2008, museum ini memamerkan 36 foto perjuangan sang saudagar batik yang juga tokoh pergerakan perjuangan nasional ini.

 

Samanhudi adalah seorang pahlawan nasional. Mendirikan Sarekat Dagang Islam, organisasi kebangsaan pertama di Indonesia, pada 1905, dia mengobarkan semangat para saudagar batik menghadapi hegemoni pedagang-pedagang besar dari Timur Asing dan melawan kekuasaan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang semakin kuat campur tangannya kepada Keraton Surakarta.

 

Pada 1935, Samanhudi mendirikan Persatoean Peroesahaan Batik Boemi Putera Soerakarta. Hingga kini, anak turunnya dan para saudagar batik di Kampung Laweyan masih terus mengembangkan bisnis batik dengan membuka workshop dan butik untuk batik tulis dan batik cap. Kampung ini kini juga lebih dikenal dengan nama Kampung Wisata Batik Laweyan. Nama Laweyan itu sendiri berasal dari kata “lawe” yang berarti kain tenun.

 

Museum Batik Samanhudi yang berada di Jalan Tiga Negeri menjadi jejak sejarah yang penting untuk dikunjungi. Dari foto-foto yang dipajang, pengunjung bisa melihat industri batik dan kondisi Kampung Laweyan pada awal abad 20. Sejumlah batik tulis koleksi pribadi Samanhudi dan alat-alat kuno pembuatan batik tulis dan batik cap juga dipamerkan. #

 

B. MUSEUM BATIK DANARHADI

Merupakan museum batik kuno dengan koleksi batik kuno terlengkap di Indonesia. Bahkan, Ketua Museum Rekor Indonesia (MURI) Jaya Suprana memastikan bahwa koleksi batik kuno di museum yang didirikan Santosa Doellah, pemilik Batik Danarhadi, ini adalah yang terkomplit sedunia. Sejak dibuka untuk umum pada 2000, sebanyak 10 ribu batik tulis kuno dipamerkan secara bergantian.

 

Berdiri di lahan 1,8 hektare di Ndalem Wuryoningratan, tilas kediaman bangsawan Keraton Surakarta di zaman Raja Sri Susuhunan Paku Buwono X, di Jalan Slamet Riyadi, museum ini menjawab pertanyaan publik betapa batik Indonesia memang layak dikukuhkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Unesco pada  2 Oktober 2009. Selama lebih dari 30 tahun memburu batik kuno, Santosa Doellah telah melengkapi museumnya dengan beragam batik yang ditata sesuai perjalanan sejarahnya.

 

Batik-batik kuno itu antara lain Batik Keraton Surakarta, Batik Keraton Ngayogyakarta, Batik Pura Mangkunegaran, Batik Pura Pakualaman, Batik Saudagaran, Batik Peranakan Belanda, Batik Peranakan Cina, Batik Peranakan Jepang atau Batik Jawa Hokokai, Batik Pengaruh Keraton, Batik Pengaruh India, dan Batik Indonesia yang digagas oleh Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno.

 

Santosa Doellah memburu batik-batik kuno asli Indonesia sampai ke berbagai penjuru dunia. Dari memborong koleksi batik milik Harmen C Veldhuisen di Belanda hingga berebut batik di Balai Lelang Christie di Paris, Prancis, dilakoninya. Anak Haji Bakri, saudagar batik dari Kampung Kauman, ini selektif memilih batik tulis kuno sehingga seluruh koleksi museum dalam keadaan utuh meski berumur ratusan tahun.

 

Atas jasanya melacak jejak, menyelamatkan, merawat, melestarikan, dan mereproduksi batik dari berbagai ragam khazanah batik itu, Santosa Doellah telah dinobatkan mendiang Sri Susuhunan Paku Buwono XII, Raja Keraton Surakarta, sebagai kerabat keraton bergelar Kanjeng Pangeran Haryo Santosa Doellah Hadikusumo. Dia juga membuka workshop pembuatan batik tulis dan batik cap di belakang museum batiknya. #

 

C. MUSEUM BATIK KAUMAN

Memajang batik-batik tulis berumur lebih dari 200 tahun karya Abu Amar, saudagar batik generasi pertama di Kampung Kauman. Museum ini dikelola buyutnya, Gunawan Setiawan, yang juga mengembangkan kawasan yang kini dikenal dengan nama Kampung Wisata Batik Kauman.

 

Kauman merupakan singkatan dari Kaum Beriman. Didirikan bersamaan dengan pendirian Keraton Surakarta pada 1744, di sisi barat Alun-Alun Utara, persis di belakang Masjid Gede, Kampung Kauman adalah kampung santri dan abdi-dalem. Sejak pindah dari Kartasura ke Desa Sala, para bangsawan Mataram memerintahkan para abdi-dalem di Kauman untuk membatik gaya keraton sehingga kampung ini identik dengan perajin batik terbaik sesuai selera kaum darah biru.

 

Museum ini merekam jejak tiga kategori batik ala Kampung Kauman, yaitu batik klasik motif pakem Keraton Surakarta, batik murni cap, dan batik kombinasi tulis dan cap. Berbeda dengan batik pada umumnya yang menggunakan kain mori, batik Kauman memakan bahan sutra alam dan sutra tenun, serta katun jenis primisima. Sebagaimana di Kampung Wisata Batik Laweyan, rumah-rumah kuno para saudagar batik Kauman yang dulu hanya digunakan sebagai tempat pembuatan batik kini disulap menjadi butik-butik batik.

 

Berdiri sejak 2006, Museum Batik Kauman kini dilengkapi dengan ruang pelatihan gratis membatik untuk publik; baik untuk pengunjung yang sekadar ingin tahu atau kalangan lain yang berhasrat memelajari batik secara lebih serius.

  

Selain mengelola museum, Gunawan Setiawan meneruskan bisnis batik keluarganya. Pada 2008, dia memperkenalkan  motif batik baru yaitu motif pamor keris. Antara lain, batik motif udan, pari sawuli, ron kendhuru sungsang, winengku, blarak sineret, pandhan iris, tunggul kukus, tritik, walang sinundukan, ron jagung, bendha segada, dan ron kendhuru sinebit. Tak percuma mengunjungi museum ini dalam perjalanan wisata di Solo. #

 

D. MUSEUM RADYA PUSTAKA

Inilah museum pertama dan tertua di Indonesia. Didirikan oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV, seorang patih di Keraton Surakarta, pada 28 Oktober 1890. Museum yang menempati bekas kediaman seorang Belanda, Johannes Busselaar, ini menandai masa kejayaan Raja Sri Susuhunan Paku Buwono X yang mendirikan Kebon Rojo Sriwedari di kawasan yang sama. Kini, kawasan yang berada di pusat kota Solo itu dikenal dengan nama Taman Rekreasi Budaya  Sriwedari. Setiap malam hingga saat ini selalu digelar  pertunjukan Wayang Orang Sriwedari.

 

Di pekarangan museum, berdiri monumen patung setengah badan dari Raden Ronggowarsito. Patung pujangga Keraton Surakarta pada masa Paku Buwono X ini diresmikan Presiden Pertama Republik Indonesia Ir Soekarno pada 1953. Di serambi museum, dipajang beberapa meriam dari masa penjajahan Belanda pada abad 17 dan arca-arca batu bergaya Hindu-Buddha yang dulu ditemukan dari puing-puing candi di sekitar Desa Sala.

 

Di dalam museum, dipamerkan arca-arca perunggu, benda-benda keperluan sehari-hari keluarga bangsawan kuno, berbagai cinderamata kuno dari raja dan kaisar kerajaan-kerajaan di Nusantara dan mancanegara, dan buku-buku karya para pujangga yang tertata rapi di perpustakaan. Nama museum ini berasal dari kata “radya” yang berarti negara atau kerajaan dan “pustaka” atau perpustakaan.

 

Selain itu, dipajang pula koleksi wayang, topeng panji, meja-kursi antik, dan patung ukiran khas Bali peninggalan Paku Buwono X. Dipamerkan pula koleksi senjata tradisional kuno seperti keris khas Jawa, Madura, dan Bali; tombak, kudi atau kujang, meriam, anak panah, dan pedang. Seperangkat gamelan, piranti makan keluarga raja, kuluk atau mahkota raja, dan numismatika atau mata uang kuno juga ada.

 

Di antara koleksi-koleksi itu, yang paling istimewa adalah Chantik Kyai Rajamala, patung kayu hiasan pada haluan Perahu Rajamala yang digunakan pasukan Raja Sri Susuhunan Paku Buwono IV berlayar menuju Pulau Madura dari Sungai Bengawan Solo. Piala Porselain berwarna merah dan bermotif bunga, hadiah dari Kaisar Napoleon Bonaparte kepada Paku Buwono IV, juga masih tersimpan utuh. Begitu pula arca batu Wisnu Ananta Sayana (The Sleeping Wisnu) dari abad 7-10. #

 

E. MONUMEN PERS

Diresmikan Presiden Republik Indonesia Soeharto pada 8 Februari 1978, bekas gedung Sositet Sasono Suko milik Pura Mangkunegaran ini merekam sejarah pendirian Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 9 Pebruari 1946. Monumen Pers Nasional dikelola Yayasan Pengelola Sarana Pers bekerjasama dengan Kementerian Informasi dan Komunikasi yang sebelumnya bernama Departemen Penerangan.

 

Jauh di masa pergerakan perjuangan kemerdekaan, para wartawan telah memiliki organisasi bernama Persatuan Djurnalistik Indonesia (Perdi) namun kegiatannya berhenti sejak invasi Jepang pada 1942. Soemanang, Soedarjo Tjokrosisworo, dan B.M. Diah, serta para wartawan lainnya kemudian menyelenggarakan Kongres I Wartawan Indonesia di Sositet Sasono Suko. Tanggal kongres 9 Februari itulah yang kini diperingati sebagai Hari Pers Indonesia.

 

Pada 1 April 1933, gedung ini juga dipakai oleh Raden Mas Ir Sarsito Mangunkusumo untuk menggelar rapat pendirian Solosche Radio Vereeniging (SRV), stasiun radio pertama di Indonesia, atas prakarsa Raja Pura Mangkunegaran, Kanjeng Gusti Pangeran Arya Adipati Mangkunegara VII. Tahun ini, Komisi Penyiaran Indonesia menetapkan tanggal 1 April itu sebagai Hari Penyiaran Indonesia.

 

Monumen Pers Nasional memiliki tiga unit gedung dan dua lantai di bangunan induk. Sebagai museum, gedung ini menyimpan benda-benda bersejarah peninggalan wartawan pejuang tempo doeloe. Mulai dari mesin ketik kuno, foto tustel kuno, arsip penerbitan-penerbitan kuno, pemancar radio saat perang kemerdekaan, dan koleksi foto.

 

Hingga kini, pengelola Monumen Pers Nasional masih menerima kiriman suratkabar harian, mingguan, maupun bulanan dari penerbitan pers di Indonesia. #

 

==

Pernah dipublikasikan di Majalah Travel Lounge